Mitos Seputar Kanker Serviks Yang Tak Benar Adanya

DataDokter.com – Belakangan ini cukup banyak wanita yang khawatir akan kanker serviks. Bagaimana tidak, penyakit ini cenderung sulit disembuhkan bahkan bisa menyababan kematian. Sayangnya, kekhawatiran ini juga memengaruhi munculnya beberapa mitos seputar kanker serviks yang ternyata tak benar adanya. Apa saja mitos-mitos tersebut? simak penjelasan dibawah ini.

Kanker serviks berasal dari riwayat keluarga 
Untuk mengetahui apakah seseorang memiliki kanker serviks atau tidak, Kita juga semestinya memeriksa sejarah awal penyakit ini berasal dari garis keluarga ibu dan ayah. Mutasi gen penyebab kanker dapat berasal dari garis keluarga ayah dan ibu.

Baca juga: Imunisasi Campak Dan Rubella Membuat Lumpuh?

Kamu tak akan terkena kanker serviks kalau tak ada riwayat keluarga penyakit ini
Faktor sejarah keluarga memang dapat membuat kita memiliki risiko lebih besar terkena kanker serviks. Namun, pakar kesehatan mengatakan bahwa kanker ini lebih sering disebabkan oleh gaya hidup yang tak sehat. Sebuah studi yang mengatakan bahwa 1 dari 8 wanita berisiko mengidap kanker serviks. Masalahnya, tak memiliki riwayat keluarga tak berarti membuat risiko ini dapat menurun.

Virus penyebab kanker serviks adalah virus langka
Ahli kesehatan mengatakan bahwa virus yang menyebabkan kanker serviks atau yang disebut human papillomavirus (HPV) ditemukan 4 dari 5 orang. Artinya, virus ini dapat menyerang siapa saja kapan saja bagi mereka yang tak menjaga gaya hidup sehat.

Produk antiseptik wanita bertanggung jawab atas kanker serviks
Risiko pengembangan kanker serviks meningkat secara signifikan kalau wanita lebih cenderung terkena infeksi di vagina. Sayangnya, salah satu penyebab infeksi ini adalah penggunaan berlebihan antiseptik feminitas

Pakar kesehatan sendiri menyarankan wanita untuk memakai produk antiseptik ini sesekali, lebih-lebih saat menstruasi, bukan tiap hari. Selain itu, pilihlah produk antiseptik yang memiliki kandungan povidone-iodine yang aman.

Tags

Satrio Elang

Pemuda biasa yang masih duduk di bangku kuliah dan ingin berbagi kepada sesama.