Cara Mempersiapkan Anak untuk Menstruasi Pertama Kali

Menstruasi pertama kali, alias menarche, merupakan peristiwa penting bagi kehidupan seorang anak perempuan. Tidak jarang peristiwa ini menimbulkan rasa bingung dan takut bagi sebagian anak perempuan karena kaget melihat bercak darah merah di celana dalamnya. Bahkan saking paniknya si anak bisa saja bertanya sambil menangis, “Ibu darah apa ini…?”

Meski begitu, ada pula anak perempuan dengan gembira menyambut kedatangan tamu bulanan pertamanya ini. Hmmm… Apapun reaksinya, menstruasi pertama memegang arti yang sama untuk setiap gadis, yaitu pertanda jika si anak sudah memasuki masa pubertas. Lantas, bagaimana cara memperkenalkan soal menstruasi pada anak? Ketahui jawabannya dalam artikel ini.

Mempersiapkan anak untuk menstruasi pertama kali

Sebagian besar anak perempuan akan mengalami menstruasi pertama kali ketika umur 12 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan mereka bisa mengalaminya sebelum usia tersebut. Itu sebabnya, sangat penting berbicara dengan anak sejak dini agar mereka siap dan tidak kaget ketika mengalami menstruasi pertamanya.

Tidak hanya bagi anak perempuan, anak laki-laki pun juga harus diajak berdiskusi tentang menstruasi. Hal ini dilakukan agar mereka juga memahami apa yang dialami ibu, saudara perempuan, dan teman-teman perempuannya setiap bulan.

Berikut ini beberapa tips yang bisa Anda lakukan untuk mempersiapkan menstruasi pertama kali pada anak.

1. Semakin dini, semakin baik

Mulailah ajak anak berdiskusi soal menstruasi secara garis besar sejak dini. Pada dasarnya, tidak hanya soal menstruasi saja, pendidikan soal tubuh manusia, terutama sistem organ reproduksi pun harus dikenalkan sejak dini. Tidak perlu malu atau merasa risih.  Pasalnya, jika Anda enggan mendiskusikan dengan anak sejak dini, seiring berjalannya usia anak akan mencari hal tersebut dari sumber lain yang belum tentu tepat.

Mulailah berbicara kepada anak perempuan dengan percakapan sederhana seperti “Kalau kamu sudah besar, tubuh kamu akan mengalami perubahan seperti Mama. Nanti akan ada perubahan tertentu di beberapa bagian tubuh kamu.”

2. Sesuaikan dengan usia si anak

Meskipun penting menjelaskan seputar menstruasi sejak dini, jangan lupa untuk menyesuaikan bahan diskusi Anda dengan usia dan pengetahuan si anak. Anda tidak perlu membahas hal tersebut secara detail dalam satu waktu sekaligus. Anda dapat mengajak anak berdiskusi pada waktu-waktu santai atau pun tiap kali ada kesempatan. Intinya, diskusi ini dilakukan secara bertahap. Tujuannya agar anak mudah mencerna dan tidak bingung.

Seiring bertambahnya usia anak perempuan, barulah Anda memasukkan bahan diskusi seputar menstruasi secara spesifik. Anda bisa berbicara lebih tentang arti menstruasi, misalnya proses menstruasi dan pengaruh menstruasi terhadap perkembangan organ reproduksi si anak. Itu sebabnya, Anda juga harus aktif mencari informasi seputar tubuh manusia. Jangan lupa untuk menjelaskan pada anak jika menstruasi adalah sebuah proses alami yang terjadi pada wanita tiap bulan.

3. Jangan gugup atau malu saat menjawab pertanyaan anak

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, berilah penjelasan kepada anak sesuai dengan usia dan pengetahuannya. Anda tentunya tidak perlu menjelaskan secara mendetail apabila anak Anda masih berusia 3 – 6 tahun.

Hal ini umumnya sering terjadi, saat si anak tiba-tiba menemukan sebuah pembalut dan menanyakan pada Anda soal kegunaannya. Jawablah pertanyaan tersebut dengan informasi sederhana yang bisa dipahami anak. Jangan merasa malu untuk menjelaskan atau masuk ke penjelasan yang luas karena Anda gugup. Anda bisa menjawab seperti ,“Mama menggunakan ini setiap menstruasi.” Jika anak tidak bertanya lebih lanjut, Anda tidak usah menjelaskan lebih jauh soal siklus menstruasi, ovulasi, dan organ reproduksi wanita.

Selain itu, jangan ragu untuk menjawab “Tidak tahu” ataupun “Nanti Mama cari tahu dulu, ya” apabila Anda kebingungan untuk menjawab pertanyaan anak. Ingat, anak perempuan Anda memerlukan informasi yang faktual tentang menstruasi dan semua perubahan lainnya ketika mereka memasuki masa pubertas. Mengarang atau menakuti-nakuti hanya akan membuat anak tidak mempercayai Anda dan justru membuatnya mencari informasi tersebut pada sumber lain yang belum  tepat.

4. Belajar bersama dengan anak

Ajaklah anak untuk belajar dan berdiskusi bersama terkait organ reproduksi manusia, menstruasi, dan masa pubertas melalui buku, video ataupun gambar-gambar yang berasal dari berbagai literatur. Jadi, Anda dan anak pun bisa saling menambah pengetahuan. Selain itu, cara ini juga bisa sebagai salah satu cara untuk menghabiskan waktu luang bersama anak dengan berdiskusi hal yang bermanfaat.

Pertanyaan yang umumnya ditanyakan anak seputar menstruasi

Berikut ini beberapa pertanyaan yang paling sering ditanyakan anak seputar menstruasi dan bagaimana cara menjawabnya.

1. “Kenapa hanya perempuan saja yang mengalami menstruasi?”

Anda bisa menjawab dengan kira-kira seperti ini: “Menstruasi adalah sebuah proses alami yang hanya terjadi pada wanita. Menstruasi terjadi karena adanya proses dalam rahim, yang hanya ada di tubuh wanita. Rahim jugalah yang memungkinkan perempuan untuk hamil.”

2. “Bagaimana kalau menstruasi pertamaku terjadi di sekolah?”

Nah, pertanyaan ini adalah salah satu ketakutan besar anak perempuan apabila mengalami menstruasi pertama di sekolah. Malu dan cemas karena takut darah menstruasi “bocor” atau menembus rok merupakan hal yang paling ditakuti sebagian anak perempuan.

Apabila anak sudah memasuki tanda-tanda masa pubertas seperti – payudara membesar, tumbuh rambut halus di bagian kemaluan atau ketiak, dan lain sebagainya Anda sudah bisa mengajarkan untuk menggunakan pembalut dan selalu bersiap untuk membawa pembalut di dalam tasnya. Jadi jika nantinya anak mengalami menstruasi pertama di sekolah, ataupun di tempat lainnya selain di rumah, anak sudah siap dengan pembalutnya.

3. “Teman-temanku sudah menstruasi, kok aku belum?”

Anda bisa menjawab “Masa menstruasi setiap perempuan itu berbeda-berbeda. Jadi, jangan heran jika ada perempuan yang mengalami menstruasi lebih cepat atau lebih lambat. Dan itu adalah hal yang normal.”

Tags

Satrio Elang

Pemuda biasa yang masih duduk di bangku kuliah dan ingin berbagi kepada sesama.